Thursday, 19 May 2011

Kerjasama Pustakawan, Guru, Dan Sekolah Dalam Pembelajaran Teknologi Informasi


Ringkasan Materi Seminar
“KERJASAMA PUSTAKAWAN, GURU, DAN SEKOLAH DALAM PEMBELAJARAN TEKNOLOGI INFORMASI”

Oleh :
Sri Rohyanti Zulaikha
(Dosen, Pustakawan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

PROBLEMATIKA PUSTAKAWAN, GURU, SEKOLAH, DAN TEKNOLOGI INFORMASI :

Problem dari Pustakawannya :
  • Sosialisasi perpustakaan
  • Sibuk dengan dirinya sendiri misalnya dalam pengolahan buku dan jarang berpikir tentang pemustakanya.

Problem dari Gurunya :
  • Sikap guru. Tentang perpustakaan hanya sebatas sampingan kerja.
  • Syarat administrasi. Minim ilmu tentang perpustakaan. Idealnya harus ada niat dan kemauan bisa menjadi guru pustakawan.
Problem dari Sekolahnya :
  • Perpustakaan belum menjadi prioritas utama
  • Dana tidak realistis dari anggaran yang seharusnya disediakan 5% untuk perpustakaan, tapi tidak diberikan untuk perpustakaan.
  • Mengutamakan ruang kelas daripada ruang perpustakaan
  • Perekrutan SDM yang belum pas. Sebagai contoh yang tepat di Kulon Progo dan Padang, SDM untuk pustakawan sudah di PNSkan.
  • Kepala perpustakaan sudah pustakawan, namun kebijakan ada pada sekolah
Problem dari TI nya :
  • Kurang relevansi TI dan Komputasi
  • Pengetahuan pustakawan terhadap operasional komputasi minim
  • Komputasi yang dikenal hanya software untuk perpustakaan bukan untuk pemustakanya
  • Komputasi hanya berpikir administrasi bukan pemustaka
  • Banyak aturan untuk pemustaka dibandingkan dengan kemudahan untuk pustakawannya
  • Tidak adanya kepedulian “Care” terhadap pemustaka tetapi lebih ke sisi egoisme kepentingan pustakawan.

SUDAHKAH BERORIENTASI UNTUK PEMUSTAKA ?
  • IFLA : perpustakaan sekolah sumber pembelajaran di sekolah dan sebagai sumber belajar yang aktif
  • Program pembelajaran aktif :

  1. Di perpustakaan : di panelkan antara perpustakaan dengan mata pelajaran lain. Misalnya : bahasa Indonesia dengan perpustakaan
  2. Literasi Informasi : Independent Learner’s/pembelajar mandiri
  3. Kepala Sekolah : harus seperti riak/gelombang dan harus ada komunitas
  4. Teori ASLA (Asosiasi Perpustakaan Sekolah Australia) : adanya perbaikan kurikulum, implementasi kebijakan perpustakaan, teacher/guru bisa melibatkan anak siswanya.
  5. Revitalisasi perpustakaan sekolah : pustakawan harus menjadi provokator terhadap kepala perpustakaan, kepala sekolah, diknas, dan sekolah itu sendiri, dst. Karena para pemangku kepentingan tidak mengerti bicara perpustakaan. Maka pustakawan menjadi mediator kepada siswa, guru, kepala sekolah dan sekolah
  6. TI : terampil literasi informasi, mindset/cara berpikir ke depan, keterampilan berinformasi, alat/tool bukan tuhan, dan point to zero.
Pesan untuk kolaborasi dari seminar ini adalah :
  • Harus memulai secara benar
  • CCTV benar manfaatnya
  • Semangat
  • Ide dijual ke kepala sekolah
PESAN KAMI DALAM PEMBERDAYAAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH

Oleh Sri Rohyanti Zulaikha (Dosen, Pustakawan UIN Sunan Kalijaga), Zainal Fanani (MAN 3 Yogyakarta “MAYOGA”), Aris Sukamto (Guru Pustakawan, MTs 1 Piyungan), dan Drs. Purwono, M.Si.(Pustakawan Utama, Fak.Teknik UGM)

Sri Rohyanti Zulaikha (Dosen, Pustakawan UIN Sunan Kalijaga)

Kiat yang dilakukan oleh MAN 3 Yogyakarta :
  1. Tidak suka membaca buku tetapi merokok, contohnya : karakter guru yang suka merokok dan suka bola, terus mencari buku ke perpustakaan. Pendekatan dari pustakawan adalah ditanya dgn hati nurani terdalam/pendekatan personal.
  2. Minta pertemuan dengan guru dan kepala sekolah.
  3. Perpustakaan jadi gula yang dirubungi semut. Kalau ada dana untuk kreativitas. Contoh : dari guru bahasa Indonesia memberikan tugas kepada siswanya mereview buku, atau guru seni memberikan tugas lomba gambar/seni. Dan perpustakaan menyediakan kebutuhan koleksi yang dibutuhkan oleh masing-masing guru dan siswa.
  4. Sosialisasi perpustakaan.
  5. FKSGM (Forum Kepala Sekolah dan Guru Madrasah) : Manajemen perpustakaan buat katalog, FGD (Forum Group Discussion), belajar melayani. Dalam hal ini antara kepala sekolah dan guru dalam diskusi menjadi cair untuk memulai dan memikirkan kebijakan baru di perpustakaan. Walaupun ada yang bergerombol antar kepala perpustakaan untuk ngobrol-ngobrol.
  6. Pimpinan terjun langsung.
Bapak Zainal Fanani (MAN 3 Yogyakarta “MAYOGA”)
  1. Berita regulasi besar di tahun yang akan datang terkait dengan sekolah dari peraturan gubernur yaitu :
  2. Anak Sekolah Dasar (SD) : wajib 1 jam membaca buku di perpustakaan (jika tidak ada perpustakaan wajib baca, entah itu mau di kantin)
  3. Buku terpaksa memikirkan dengan peraturan (pengawas untuk jadi orang baik, daripada ikhlas tapi jelas)
  4. Ikon keistimewaan Yogyakarta, siapkah jadi pustakawan ?
  5. Anda sebagai pustakawan menjadi provokator…”kami adalah kumpulan provokator…dengan menunjukan slide gambar-gambar perpustakaan yang bagus di laptop atau dimanapun” …sesuai dengan kreativitas untuk memprovokatori terhadap kemajuan perpustakaan.
Memberdayakan Perpustakaan, ada 5 hal yang sebaiknya dilaksanakan :
  1. Benahi tangible image building, dengan : merangsang orang untuk datang ke perpustakaan, tanyakan keinginan dan pendapat murid tentang perpustakaan “apa yang dilihat dari perpustakaan ?”, menata perpustakaan sesuai selera siswa “apakah yang disukai warnanya/musiknya ?”
  2. Kembangkan program kunjung perpustakaan
  3. Pengalaman positif pustakawan di perpustakaan : kemampuan komunikasi empatik dari pustakawan kepada siswa, care terhadap siswa, dst.
  4. Pengembangan koleksi : orientasi pada pemustaka, buku yang menarik minat baca siswa sesuai dengan hobi/impian siswa, buku paket setahun adanya program BOPS (Bantuan Operasional Perpustakaan Sekolah) menyediakan honor untuk pustakawan/perpustakaan sebesar 4 juta rupiah selain dana dari BOS (Bantuan Operasional Sekolah).
  5. Pengalaman awal membaca yang positif : baca buku susah (mindset yang pertama kali oleh siswa ketika membaca, maka pustakawan harus pintar memilihkan hobi membaca. Biasanya ditawari buku yang sesuai dengan hobi atau impian siswa.

Jadi siswa akan menjadi pembelajar teknis mandiri.

Bapak Aris Sukamto (Guru Pustakawan, MTs 1 Piyungan)
Saya bukan seorang pustakawan, saya adalah seorang guru IPS, tapi pandangan saya terhadap perpustakaan :
  • Saya diklat perpustakaan di UIN 600 jam, sebagai modal pelatihan.
  • Guru bercerita tentang buku baru.
  • 1 siswa = 1 buku
  • Workshop perpustakaan-perpustakaan terbentuk IGPM (Ikatan Guru Perpustakaan Madrasah)
  • Harus milih jalur guru atau pustakawan ?
  • Bargaining position/posisi tawar menawar
  • Bench marking ke McGill University dan Quebec City
  • Buku taruh di meja
  • Ketua ATPUSI DIY : Tenaga PTT/Honorer, wakil dari pengawas lewat jalur PGRI. Unit professional pustakawan di DIY diperjuangkan.
  • IGPM melantik 4 kabupaten, belum termasuk Kabupaten Gunung Kidul
  • Menambah koleksi/hibah koleksi dari guru/karyawan yang naik pangkat, mau pensiun atau pindah/dimutasi agar menyumbangkan buku.
  • Pendidikan formal perpustakaan minimal D2 atau diklat perpustakaan
  • PPMB (Penalaran Pengembangan Minat Baca)
  • Kerjasama dengan Forum Perpustakaan yang ada di DIY (ATPUSI DIY, FPSI, ALUS, HIMPUSMA, IPI, dll.)
  • Data lah keinginan siswa itu apa saja, tergantung jenjang pendidikannya.
  • Pengelolaan manajemen

Bapak Drs. Purwono, M.Si. (Pustakawan Utama, Fak.Teknik UGM)

Pengalaman kurang dari 6 Provinsi terkait dengan perpustakaan sekolah:

SMA Saverious :
  • Desain perpustakaan non formal.
  • Buku dipisah antara buku paket dan pengayaan.
  • Wajib kunjung ke perpustakaan untuk semua mata pelajaran di sediakan ruang kelas. Siswa kelas 1 sore, siswa kelas 2 pagi. Dan tidak ada tawar menawar.
  • Library Based Learning
Madrasah :
  • Memberdayakan siswa. Siswa SD yang nakal/bandel agar diberdayakan untuk membantu melayani, shelving di perpustakaan
  • Guru kelas dan pustakawan turut membantu
Mataram Lombok :
  • Membaca : yang laki-laki hobinya bola dilanggankan koran bola, atau yang wanita dilanggankan majalah femina.
  • Menyediakan koran nasional ada 4 judul, dan koran lokal ada 3 judul.
Pesan Lain :
  • Coretan di tembok diarahkan.
  • Kebutuhan pustakawan (D2, S1 ada banyak dan disediakan asal upahnya layak)
  • Tahun 2012, saya sudah pensiun.
  • Literasi informasi selain itu ada perpustakaan alternatif.
  • Dibiasakan bahan bacaan cetak selain “mbah google” non cetak/di laptop.
  • Pesan sebelum pensiun :..”langkahkan kaki dengan pijakan TI, walaupun terbitan tercetak (selama masih ada penulis, penerbit, dll) tidak harus digital, dan fasilitas belum memadai
  • Kembangkan kepustakawan karena Pustakawan Utama di Indonesia hanya ada di UGM (2 orang), IPB (1 orang), UI dan UNAIR. Selanjutnya siapa lagi ?

“Mencoba untuk semangat melakukan lebih berarti daripada sekadar kata.”

Semangat pustakawaners.
Salam Admin.
Share:

0 komentar:

Post a comment