Monday, 18 October 2010

Sekolah Butuh Banyak Pustakawan

MEDAN- Dinas Pendidikan Kota Medan berencana membangun dan menambah jumlah perpustakaan di sekolah-sekolah. Hal itu terkait upaya mewujudkan kurikulum pendidikan berbasis sains. Peningkatkan minat baca siswa juga jadi prioritas. Tapi sayang, keberadaan Pustakawan di sekolah masih minim.
Kepala Disdik Kota Medan Hasan Basri mengatakan, perpustakaan sekolah di seluruh SMP Negeri yang berjumlah 45 unit telah rampung. Hanya saja masih menunggu pengelolaan dari pihak sekolah.
Sedangkan di tingkatan SD Negeri yang berjumlah 405 unit di Kota Medan, telah dibangun sekitar 182 perpustakaan.
“Dan dalam waktu dekat ini Disdik Kota Medan akan kembali meresmikan sekitar 60 perpustakaan sekolah,” terangnya kepada wartawan, Minggu (3/10).
Ditambahkan Hasan, pihaknya juga akan membangun perpustakaan sekolah melalui dana alokasi khusus pengembangan sarana sekolah. “Kami akan terus menambah jumlah perpustakaan sekolah sampai setiap sekolah memilikinya,” ujarnya.
Di lain pihak, Ketua Komisi E DPRD Sumut Brilian Moktar mengkritik koleksi buku di perpustakaan SD yang masih didominasi buku teks pelajaran. “Sekolah kesulitan untuk mengembangkan koleksi perpustakaan. Sebab dana untuk buku masih diprioritaskan untuk buku teks pelajaran siswa,” katanya.
Brilian juga mengatakan, keberadaan perpustakaan sekolah memang masih belum dioptimalkan. “Kendalanya memang terletak pada minimnya koleksi perpustakaan tersebut. Sebenarnya kesulitan memenuhi koleksi buku perpustakaan bisa disiasati. Sekolah-sekolah bisa bekerjasama untuk saling tukar koleksi buku,” sarannya.
Brilian juga mengkritik pustakawan sekolah yang masih dipegang guru yang minim pelatihan. “Pelatihan pustakawan diharapkan bisa memperluas wawasan siswa dan meningkatkan minat baca,” tambah Brilian. “Penggunaan buku-buku referensi, buku-buku bacaan popular lainnya, majalah, serta surat kabar sebagai bagian dari kegiatan belajar sehari-hari juga dibutuhkan,” jelas Moktar.
Menurut Moktar, kompetensi pustakawan harus didefinisikan sebagai kemampuan, ketrampilan, motivasi, konsintensi dan tanggungjawab untuk menguasai bidang pekerjaannya.
Minimnya pustakawan ini pun diakui oleh Hasan Basri. “Kadang guru Bahasa Indonesia juga diberdayakan sebagai pustakawan.
Selain itu tenaga honorer yang bidangnya sesuai akan diberdayakan,” paparnya. Dengan demikian, Hasan menyatakan pihaknya akan terus berusaha meningkatkan kompetensi para pustakawan agar mampu memberikan motivasi kepada anak didik lebih gemar membaca. Tentunya melalui berbagai pendidikan dan pelatihan. (saz)

Sumber :
http://www.hariansumutpos.com/
Share:

0 komentar:

Post a comment